Cerpenku

Perempuan di Pertigaan

Elzam Zami

Publikasi: Majalah Annida, November 2005

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Dahaga sekali Mut sepulang dari merumput dan suaminya menyambut dengan tawaran air pahit. “Aku mau menikah dengan Rohana, terserah kau mau dimadu atau ingin sendiri! Aku tak peduli.”

Apa yang membuat Badar mau menikah lagi? Harta! Apa yang ia punya selain dari sehektar-dua hektar tanah itu! Siapa pula yang tekun menggarapnya?

nikeak bae1)…” Kata Mut. Dengan Rohana lagi, lekat sekali keadaan perempuan itu di benak Mut. Juga keadaan keluarganya. Tak cantik-cantik amat perempuan itu.

Wajah Mut sedikit menjadi sendu. Tak perlu berlebihan melarutkan rasa. Berlebih-lebihan memang selalu tak berujung baik. Ketika ada riak berdentum di benak cukup ia bentuk segaris mimik mewakili riang, benci, iba atau sesak. Tipis saja!

Kini paras sendu Mut berubah garis lengkung ke atas. Tersenyum. Tak apalah persahabatannya dengan matahari menjadikan ia hitam. Pun panasnya api tungku dapur dan asap yang mengaroma ditubuhnya. Tubuh yang semasa Mut gadis sering dibicarakan keindahannya. Kulit halus, wajah menarik, bentuk tubuh sintal…

Tapi aku perempuan. Tak seharusnya begini. Kewajarannya adalah tampil cantik dan wangi.

Itu dulu, ketika kau masih gadis, kata hatinya.

Hhmm…benar juga. Itu yang membuat ia tersenyum. Sekarang Mut adalah isteri Badar dan ibu dari tiga anak. Adakah waktu luang untuk memanja diri?

“Nak, yang namanya wanita itu dicipta dari tulang rusuk lelaki! Pengabdian pada suami menjadi garis hidup…” Sebuah kalimat yang sering Mut dengar dari Ibunya semasa gadis.

Pernyataan yang sangat jelek, klaim Mut. Ceramah Ustadz Jaelani waktu Sri, anak tetangga sebelahnya menikah dulu pernah menjelaskan. Katanya tidak ada apa itu…? nash shahih alias kebenaran yang menerangkan hal itu. Dan ia makin jengah.

@@@

Sore tadi enak saja suaminya menanti ia di depan rumah. Segudang serapah keluar dari mulutnya. Sebanding lurus dengan seringai sinisnya melihat Mut, sang isteri. Katanya, “Perempuan lelet2)apa saja kerja kau, heh? Di rumah tak ada apa-apa! Apa kau kira aku makan beras mentah…!” Marah besar Badar rupanya.

Nasi… nasi saja pikirannya kalau pulang. Coba sesekali berpikir bagaimana nasi bisa selalu ada di rumah ini. Mut menggeram. “Aku juga bisa marah” batinnya.

Ia tidak kalah berteriak, “Apa tidak salah pertanyaan dang3)? Kerja? Aku dari pagi memetik kopi sampai matahari merah. Pantas saja sudah habis dimakan anak-anak.” Ia berkata tidak kalah garang.

“Setahun aku menunggu kopi berbuah. Merumput, menyemprot, meranting berbulan-bulan, Dang di mana?

Seketika bunang4) yang ia sandang di bahu terhempas kasar. Ia yang lebih berhak marah. Bukan lelaki pengecut yang bisanya hanya keluyuran, judi, main perempuan…Berhamburan biji kopi merah memenuhi lantai.

Mut hanya memberi murka di dialog hati. Selebihnya, apalah yang dapat ia muntahkan mengenai kata sampah yang ingin sekali dilisankan ke telinga suaminya itu.

“Maaf Dang… kesorean, aku pikir Dang tidak pulang. Sebelum ke kebun aku masak untuk anak-anak, sedikit” ujarnya lirih sambil meletakkan bunang di lantai.

Badar memegang dagu Mut. Bukan untuk menggagumi wajah itu.

Ko as aduknu coa belek, heh?5) Cepat kau masak! Aku mau pergi lagi nanti!”

Oh, Mut tak habis pikir. Kenapa perempuan selalu berada di bawah. Selalu saja terhempas lepas. Bahkan untuk berani berkata Ia adalah Muthmainah. Dengan tenang mendefinisikan kebebasan pada jiwa. Jiwa seorang Mut juga yang mempunyai badani. Bukan Badar, ayahnya dulu—ketika belum berijab kabul pada Badar—atau masyarakat.

Masyarakat terlalu turut campur! Apalagi bagi tun jang6), sepertinya setiap orang harus tunduk pada anggapan yang dibentuk orang lain.

“Kebun kopi Badar itu berhasil terus. Berton-ton ia dapat hasil panen. Giat sekali sebong o7) berkebun…” Pembicaraan sehari-hari orang sedusun.

Apa mereka pikir Mut buruh yang dipekerja Badar. Harusnya ia mempertontonkan jadwal rutinnya. Setiap hari, subuh-subuh ia bangun dengan tubuh tanpa tenaga. Badar masih saja lelap setelah menumpahkan nafsunya yang sangat jelek. Baginya Mud adalah pelayan. Tak patut diperlakukan perempuan yang tidak mau melayani nafsunya dengan kasih.

Ia akan segera mennyalakan api. Menjerang air dan menanak nasi. Memandikan si bungsu dan menyiapkan Syamsudin dan syifa untuk berangkat ke sekolah. Setiap pagi anaknya selalu menjadi pangeran dan puteri yang harus dilayani.

Suami bangun! Tentu saja rumah telah lengang, kecuali piset8) dua tahun mereka. Badar akan segera berangkat ke kebun setelah makan. Mut akan segera menyusul setelah membereskan rumah. Orang sedusun akan melihat Badar sebagai tipe pekerja keras.

Mut sangat benci anggapan itu. Ketika sampai di kebun tugasnya menjadi nyata. Suaminya malah menampakkan kenyataan miris. Ia masih asyik melanjutkan dengkur setelah jeda makan pagi. Malas-malasan beranjak melihat Mut telah sibuk dengan wangi rerumputan liar. Kebun harus dirumput dengan sekuit9).

Tangannya memang terasa lebih bertenaga sekarang ini. Bertahun-tahun ia melepas bedak untuk sebuah hidup. Bukan hidupnya saja, tapi juga hidup keluarganya.

Cras…cras…tangan sigapnya menebas rumput liar, kadang juga membersihkan ranting kopi yang kering. Saat-saat inilah ia menjelma menjadi sang penantang.

Ia tantang si Badar itu! Memang suaminya selalu saja kalah di adu berperang di medan yang mempertaruhkan hidup keluarga mereka. Seenaknya saja ia akan pulang setelah matahari lari dari putaran zhuhur.

“Aku masih banyak urusan! Kau kerjakanlah dulu kebun ini. Tak pantas aku melalaikan urusan di luar sana!”

Mut hanya diam. Toh ia butuh pekerjaan untuk menghidupi anak-anaknya, benteng yang membuat ia bertahan dari musuhnya. Bukan mengharapkan uang dari setumpuk urusan Badar.

Sesiang ini mulut perempuan-perempuan sedusun ia pastikan sedang bercuap-cuap menggunjing. Tak tahu mereka perempuan macam apa yang mereka gunjingkan itu.

Coa nam murus keluargo rupone Mut o10). Sampai-sampai Badar harus beristeri seorang lagi. Lihat saja badannya. Tak pernah memperhatikan kemauan suaminya. Percuma ia cantik dulu. Kini tak lagi merawat badan untuk suaminya. Gumak11) sekali Mut kini…”

Hapsah yang dulu sangat membenci Mut menyambung, “Tentu saja, puas ia dinikahi laki-laki macam Badar yang digilai setiap perempuan waktu masih bujang. Untuk apa pula ia berdandan. Telah menang Mut dengan status isteri Badar”

“Meradanglah ia sekarang karena mau di madu dengan Rohana!” ujar Mar, tetangga sebelah-menyebelah Mut.

“Pantas sekali ia menerimanya. Perempuan yang sebenarnya tak perempuan. Hidupnya sebenarnya tergolong berkecukupan meskipun tidak kaya…”

Kalimat seperti itu sampai juga di telinganya. Malam ketika ia bertandang ke rumah ibunya. Marah besar ibunya kepada Mud.

“Mud, apa yang kau lakukan sampai suamimu mau menikah lagi. Tak cukup keadaan hidup kalian yang semakin baik itu?” kata Ibunya.

“Apa yang saya lakukan, Mak? Siapa pula yang berperan menciptakan keadaan baik itu? Banyaklah aku berkebun di ladang dibanding Dang Badar”

Tun leyen ipo teu12). Tahunya suamimu, Badar yang mencari nafkah dan ia termasuk berhasil. Pokoknya jangan sampai kau bercerai! Apa kata orang jika kau janda? Sekarang saja mereka melihat sebelah mata!” gerutu wanita tua itu.

“Mak…mengapa Mak selalu mendengar kata orang? Aku juga yang merasakannya, melakukannya, cobalah Mak mendengar kataku pula.”

“Jadi kau mau menjanda?”

“Apa aku bilang begitu?” Mut balik membalas pertanyaan Emaknya.

Ibu Mut berdiri, beranjak dari hadapan Mut, “Keras kepala! Terserah kau! Tapi ingat jangan kau buat malu emak dan almarhum bapakmu.”

Semua orang memang selalu tak pernah jujur bagi Mut. Tidak juga keluarganya. Apa mereka sangsi jika lengannya jauh lebih kokoh dibanding lengan berotot milik Badar. Tidak di rumah, tidak di ladang ia tak pernah menghentikan lengannya untuk sekadar mengusap kehalusan kulitnya. Jauh sekali kemubaziran itu ia buang.

Mut sama sekali tak mengharapkan Badar berbuat banyak untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Tak berharap lelaki itu membelikannya baju yang layak misalnya. Ia bisa sendiri melakukannya. Ia percaya sedikit tenaga yang ia kumpulkan untuk bekerja seperti laki-laki menjadi bukit juga. Bukan tenaga besar Badar yang nyaris tak pernah digunakan.

Namun sekarang lelaki bernama Badar itu seperti pemimpin zalim saja. Padahal dengan apa ia memimpin? Dengan perangai kasarnya itu! Mau menikah lagi…

Mut terpekur. Tak sekalipun ia menyalahkan perempuan pilihan kedua suaminya. Rohana adalah perempuan juga, sama dengan dirinya. Namun adakah watak ingin merebut di pikiran gadis semacam Rohana?

Kepahitan hidup juga yang membuat ia menerima lamaran Badar. Dengan ekonomi yang sangat memprihatinkan sepertinya Rohana tak punya pilihan. Bukankah dengan menikah ia dapat mencukupkan kewajiban ayahnya untuk menafkahi. Menolak pun sama dengan ia dianggap durhaka oleh orangtuanya. Perkara cocok tak menjadi soal utama.

Senja telah cukup lama menunggu jatahnya dari siang. Seperti biasanya Mut masih menikmati karirnya di ladang. Sejak dua hari yang lalu ia menghujani ilalang yang tumbuh dengan racun semprot. Ilalang tak bisa dibasmi dengan merumput saja. Kokoh sekali ia meletakkan tanki penyemprot berisi berliter-liter air itu pada jiwa yang ringkih.

Gontai dengan sisa tenaga Mut pulang. Pikirannya masih berkelebat dengan keputusan suaminya yang ingin menikahi Rohana. Entah apa juga yang membawa ia pada pertemuan dengan Rohana di jalan menuju dusun.

Perempuan selalu kikuk untuk saling bertegur sapa jika terlibat pada jalinan nasib yang berkaitan. Nasib tertindas karena keberadaan mereka masing-masing sebagai perempuan berhadapan.

Kebekuan tak ingin lama hadir. Rohana membuka tuturnya, “Mut, kau sudah tahu rencana suamimu?” pancingnya lirih. Antara rasa bersalah dan takut ia ucapkan sebaris kalimat itu.

“Lantas?”

menurut ko awei ipo?13)

“Aku perempuan yang tak membutuhkan lelaki sebenarnya! Suami bagiku tak lebih sebagai pemberian orang lain diluar hidupku, pemberian orang tua.” Mut menjawab perih. “Mungkin jawaban itu kasar bagimu…tak apalah anggapan itu.”

“Maafkan aku…, Aku tak bermaksud merebut suamimu.” Rohana menderaikan kepiluannya.

Rohana menarik satu nafasnya dengan berat. Wajahnya pun pias. Jika bukan tuntutan keadaan ia memang ingin berucap, bukan diam seperti selama ini. Rohana ingin menjadi dirinya sendiri walaupun anggapan itu tak pernah ada di benak orang lain. Ia memang mau dinikahi Badar, untuk semua itu ia memiliki satu alasan. Hanya ia sendiri yang tahu kegamangan kian merona dalam setiap pilihan. Perempuan seperti ia memang hadir untuk bertemu perih, pikir Rohana.

“Hei…hei…! Mengapa kau menangis? Tak patut perempuan seperti kita menangis. Jangan tunjukkan kekalahanmu!” Mud menatap wajah kuyup Rohana.

Bergegas Rohana berjalan. Ia tak sanggup menanggapi ketegaran perempuan semacam Mut.

“Aku akan memaksa orang tuaku untuk membatalkan lamaran suamimu.” serunya berbalik menatap Mut. Perih…

Mut memandang perempuan itu dengan galau. Kesan yang ditampilkan Rohana sangat aneh bagi Mut. Perempuan itu bingung mengapa ucapan yang ia lontarkan ditanggapi lain oleh Rohana. Bukan Rohana juga yang merasa perih. Ia tidak pernah sendirian dicekam rasa itu. Rasa yang sama, saat ia juga dilamar Badar beberapa tahun yang lalu. Ia berteriak lepas memberi ruang untuk sesama perempuan di depannya. Agar angkasa dapat mereka terbangi berdua.

“Kalau aku bisa menerimamu sebagai madu, mengapa engkau tidak…! Yang kita butuhkan hanyalah status sebagai isteri. Tidak lebih…aku tak menolak kenyataan.” Kalimat itu meluncur tegas menghalau Rohana, lebih kepada pengharapan. Mut sadar ia juga perempuan yang dibentuk nasib…

Tak tahu Mut apa yang selanjutnya diperbuat oleh Rohana setelah pertemuan itu. Terlalu lelah ia berpikir untuk sebuah ketegaran karang yang ia miliki. Entah kekuatan apa pula yang ia miliki sampai sanggup berbagi untuk seorang perempuan lain, di rumah yang selama ini hanya ada sepasang ikatan perkawinan. Hanya saja Mut yakin bukan karena ia menghormati Badar, apalagi ingin memiliki lelaki itu selamanya.

“Perempuan sialan! Apa yang kau lakukan pada Rohana sampai orang tuanya harus membujuk lagi? Masih untung kau aku madu. Bukan aku ceraikan!.” Memerah muka Badar melihat wajah Mut.

Angin memang selalu berhembus menyampaikan pertemuan dan pembicaraan yang tak kasat mata bagi Badar. Pertemuan tak sengaja di senja ketika Mut pulang dari ladang berhembus juga. Udara panas selalu hadir untuk dihembuskan pada kedamaian angin. Buah bibir yang memanas dari mulut orang sedusun yang jeli mengintai setiap episode perisitiwa.

Kali ini Mut ingin bersuara keras. Ia benci juga akhirnya ketegaran yang dipertahankannya. Bertahun-tahun perempuan itu membungkus ketertindasan dengan sekeping hidup sabar.

Mut menatap mata suaminya dengan tak kalah garang. Bisa yang ia simpan di lidah keluar juga. Meradang penuh …

“Kau pikir aku mencacinya?!” Ia mendongak tegak.

Harga diri Badar terinjak-injak melihat kelakuan isterinya yang selama ini tak berkutik. “Sudah berani kau rupanya…!” tersinggung sekali Badar mendengar Mut berkau-kau saja terhadap dirinya.

“Aku katakan padanya agar ia menerima saja ajakan nafsumu itu! Kami perempuan memang harus selalu begitu… mengalah untuk lelaki busuk macam Dang!” tajam sekali kata-kata Mut.

“Lalu mengapa ia menolak setelah kau temui, perempuan jalang?!”

Plak…! Sebuah tamparan membekas untuk Mut hamparkan di peta hatinya. Ia tidak akan menangis. Kalah, jika ia menderaikan bening emosi cengeng.

“Tak ada gunanya kau ada di sini lagi. Percuma kau kujadikan isteri tua nantinya. Pergi kau…!” Badar murka. Ia keluarkan semua taring yang ia miliki untuk menggigit magsanya itu.

@@@

Mut telah meninggalkan sarang tempat ia melabuhkan dirinya. Peduli apa ia dengan sebutan orang sedusun tentang kondisinya. Ia punya dua sayap untuk dapat terbang mengangkasa. Ia punya paruh untuk mematuk sehelai demi sehelai rumput kering untuk membuat sarang baru. Tampa pejantan sekalipun

Sebelum Badar menceraikannya ia telah lebih dulu mengangkat diri untuk sebuah kekalahan. Untuk sebuah hidup dengan jiwa yang bebas ia telah menggugat cerai suaminya. Orangtuanya boleh bicara ia perempuan tak tahu malu, perempuan pelawan kodrat sekalipun. Masyarakat boleh mengunjing segunung aib bagi janda seperti Mut.

Mut kembali terlahir menjadi dirinya sendiri dengan membawa anak-anaknya serta. Ia juga mendengar jika Rohana akhirnya berhasil menolak lamaran Badar. Meskipun Rohana harus pergi merantau keluar dari dusun, menghindari paksaan orang tuanya.

Mut tersenyum untuk sebuah kemenangan yang dimiliki dua orang perempuan. []

Untuk sesosok perempuan kokoh, my mother…

Catatan kaki:

1) menikah saja

2) lamban

3) kakak

4) bakul dari anyaman bambu yang digunakan dengan di sandang

5) kau suka suamimu tidak pulang, heh

6) orang Rejang, sebutan untuk salah satu suku di Bengkulu

7) lelaki itu

8) bungsu

9) arit, alat pemotong rumput

10) tidak bisa mengurus keluarga rupanya Mut itu

11) kotor, belepotan

12) orang lain tidak tahu

13) menurutmu bagaimana?

Pada Gerimis Satu Satu

Pada Gerimis Satu-satu
Elzam Zami*)
Publikasi : Rakyat Bengkulu, 28 November 2004

Padanya aku menghamparkan persahabatan yang unik. Eve selalu hadir mengisi jenak-jenak waktu yang kucoba rangkai menjadi jauh lebih indah. Dan ternyata itu memang berhasil. Meskipun harus kuakui ada beberapa nama perempuan lain yang hadir mengisi memori sepanjang masa di belakangku kemarin.

“Persahabatan kita adalah konsep saling memberi manfaat dalam kebaikan” kata Evie ketika awal persahabatan kami di mulai. Aku lebih menyukai menyebutnya Eve –dengan menghilangkan huruf i– lebih dekat kepada sebutan Hawa pada orang Barat. Namun bukan berarti aku mencintainya karena namaku Adam sehingga aku menganggapnya pasangan seperti Nabi Adam kepada Siti Hawa.

Aku pernah bertanya padanya, “Kau tahu Eve, kenapa aku menyukai bergaul denganmu?” Dia hanya mengangkat bahunya sembari menyeruput segelas es jeruk.

“Kamu orangnya asyik banget menempatkan sahabat pada posisi yang terhormat. Bersamamu aku merasa dimanusiawikan dengan sikapmu…”

“Hmm…Adam, Adam! Selagi kita ingin menikmati pertemanan, mengapa kita tidak memenuhi keinginan hati kita yang jujur untuk bersikap alamiah pada orang lain? Bukankah kebaikan itu alamiah? Banyak juga yang menyebut fitrah manusia adalah mencintai kebaikan,” Jawab Eve yang membuat aku kian kagum pada sosoknya.

“Oo, begitu ya? Sampai kau menjelma menjadi perempuan yang berkepribadian seperti Putri Abu dalam dongeng. Maaf, itu bukan berarti aku mengharapkan kau mendapat kemalangan seperti Putri tersebut. Kebaikanmu yang sama dengan kebaikan tulus putri yang malang itu.”

“Jangan memujiku berlebihan, friend. Aku Cuma Evie yang bersahabat padamu bukan karena latar belakang tertentu. Naluriku mengatakan persahabatan itu lumrah dan menyenangkan.” Jawab Eve santai. Sesantai penampilannya yang selalu sederhana. Ia tak pernah kulihat berdandan modis seperti kebanyakan perempuan. Padahal ia punya cukup uang untuk mempermak penampilannya agar menarik dan lebih wah. Seperti saat ini jeans yang ia kenakan hanya dipadu dengan kemeja gombrong bergaris kotak-kotak.

“Padahal aku punya teman dekat sebagai pacar. Tapi kedekatan kita sepertinya melebihi hubungan aku dengan Raisya!” ungkapku meryebut nama pacarku yang terbaru. Aku memang punya seorang saja sahabat dalam artian seperti persahabatanku dengan Eve. Berbeda dengan kekasih, ada beberapa banyak gadis yang memiliki hubungan denganku yang kata orang “cinta”.

“Ah, bedakanlah kedekatan kita dengan kedekatan bersama gadis-gadismu. Kupikir ada nilai yang jauh berbeda ketimbang hubungan antar kekasih. Entahlah…aku masih terus memikirkannya Adam.”

“Ya, pikiranku bingung mengapa persahabatan kita lebih awet daripada ikatanku dengan mereka. Pacar-pacarku yang seabrek-abrek itu.” Aku tertawa akan kekonyolanku.

Eve menjawab retoris, “Apakah itu berarti hubungan persahabatan kita tidak boleh lebih baik dari hubungan sepasang kekasih?” Aku terhenyak! Betul juga katanya.

Begitulah, ditengah kesibukan bermain cinta dengan beragam gadis yang biasanya tak bertahan lama. Persahabatanku dengan Eve kian bersinar terang memberi ruang segar untuk membagi kata, riang, gundah , dan emosi lain pada sosok manusia lain di luar diriku sendiri.

* * *

Namun tiba-tiba pada gerimis satu-satu yang turun ke bumi, saat matahari bersinar terik di siang hari, Eve berubah. Ia menggugat hebat konsep yang selama ini kami pertahankan.

Ini pertemuan kami yang pertama kali di bulan November yang telah memasuki akhir bulan. Aku memang mengurangi jadwalku sekedar berbincang dengan Eve. Tidak ada alasan apa-apa yang melatarbelakangiku berbuat demikian. Aku cuma ingin demikian saja. Lagipula bulan ini aku bolak-balik menyelesaikan penelitian skripsiku di sebuah desa tertinggal. Praktis waktuku tersita kesana. Selebihnya aku mengunjungi Raisya. Perempuan yang kucoba dekati dengan lebih intensif lagi. Cewek itu sulit sekali ditaklukkan ternyata. Namun, ketika aku menemuinya serta merta ia mendepakku. Sambutan yang tak seperti biasanya.

“Eve, apa yang baru kau ucapkan tadi? Kau…?! Apakah kau dalam keadaan baik-baik?” aku bertanya sangsi. Mengapa tiba-tiba ia mendamprat semua perilakuku justru pada saat ini. Tidak ketika dulu-dulu, karena ia mengenalku sudah jauh sekali.

“Kau telah berlaku kurang ajar pada gadis-gadismu” Ia menjustifikasi kesalahanku dengan enaknya.

“Ha! Kurang ajar?! Apa yang telah kulakukan pada pacar-pacarku? Sekedar berbincang, jalan bareng, nonton, merayu, mengelusnya dan…” Aku mencoba membela dengan tegas. “Dan bukankah itu wajar mewakili cinta pada kekasih” tambahku menjelaskan.

“Ya! Wajar katamu. Dan karena cinta sempitmu itu kau sampai melupakan sahabatmu. Dimanakah kau saat aku ingin cerita ketika aku sedih kehilangan Ayah? Dimanakah kau ketika aku ingin membagi kebahagiaan ketika syukuran wisudaku? Dimanakah Cinta untukku? Dimana???”

Ha! Sedemikian banyakkah moment penting Eve yang ia lewati sampai aku tak memperdulikannya. Tapi apa yang ia katakan terakhir tadi? Cinta?

“Eve…” potongku cepat. Tidak mengerti. “Apa-apaan ini! Okey, aku mengaku salah karena tidak pernah menghubungimu akhir-akhir ini. Aku bersalah karena terlalu sibuk dengan Raisya pacar baruku. Tapi apa yang kau ungkapkan terakhir tadi?”

Aku menghela nafas. Berat sekali bagiku mengutarakannya. Takut ia lebih tersinggung dan melukai hatinya. Jujur aku tidak pernah merasa ia memperlakukanku kasar hingga tersinggung dan sakit hati. Tapi kenapa mesti ada rasa itu Eve? Berontakku dalam hati.

“Kenapa kau mengharapkan cintaku, Eve…?! Seorang Adam yang merupakan sahabatmu.” Lepas sudah kata yang mewakili kepenasaranku.

Suasana cuaca yang tidak bersahabat meningkahi pertengkaran kami. Hujan gerimis bak jarum yang meluncur berpendar di bumi. Sementara matahari bersinar terik. Perpaduan panas dan dingin yang menimbulkan sensasi pening, apalagi ditambah keadaan hati kami.

“Huh! Begitu sempit ternyata kau memandang cinta, seperti kataku tadi. Baru kusadari cinta memang tak pernah ada pada sosokmu Adam!” Eve menjelma menjadi sosok yang membingungkan, kalau tidak boleh kukatakan menyebalkan. Benar-benar!

Aku mencoba menjelaskannya lagi dengan lebih tenang, “Aku tidak mungkin menjadi kekasihmu, Eve. Aku menyukaimu, tapi bukan berarti aku…”

“Ya, ya…! Tidak mungkin menjadi kekasihmu. Pelampiasan cinta yang dalam benakmu hanya ada kamus cinta busuk! Cinta nafsu.” Ia segera beranjak dari tempat duduk dan membayar minuman yang tadi kami pesan. Aku tak bermaksud mencegahnya. Biarlah kemarahannya mengendap.

Dikejauhan pandangan mataku terus lurus. Gadis yang sebenarnya teramat baik itu menerobos alam terbuka. Pada gerimis satu-satu…

* * *

Dalam derai sunyi ini aku mengungkap diri. Pada sepi malam yang mungkin mampu memberiku masukan bagaimana harus berbuat untuk seorang Eve. Potongan hatinya telah kulihat di sini berkeping-keping. Dan Eve berpikir itu semua karena perbuatanku. Aku telah membuat ia rapuh dan berderai dalam keping-keping marah.

Eve, sesungguhnya aku masih ingin menikmati hubungan kita seperti dulu lagi. Aku akan kembali menata komitmen ideologi persahabatan kita. Aku memang terlalu acuh pada konsep “memberi mamfaat dalam kebaikan untuk sebuah persahabatan.”

Pada pacar-pacarku yang daftarnya berderet-deret aku mampu meninggalkan mereka. Meski setiap berakhirnya hubungan lebih di dominasi perpecahan hati. Cinta selalu meninggalkan luka, benci, dan mungkin dendam ketika berakhir miris pada setiap gadisku. Tapi itu wajarkan menurutku. Mereka tak berhak menuntut apa yang telah kami lakukan dan terukir kala cinta masih indah. Karena cinta sepasang kekasih ternyata juga seperti waktu, selalu berubah. Egois memang!

Namun untukmu Eve! Aku tidak ingin semuanya berakhir negatif. Tidak juga luka dihatimu, luka dihatiku. Karena memang hubungan ini murni dalam kebaikan. Hubungan ini jujur memberikan banyak kebaikan tak terukur. Sama sekali berbeda dengan hubunganku dengan Naura misalnya, kadangkala kusisipkan sesuatu untuknya. Ya! Sesuatu yang membuat aku berpikir saat ini. Kata apa yang harus mewakilinya. Oh! Eve…aku bergidik ngeri! Aku menyisipkan nafsu untuk legalitas cinta. Kata yang tepat, benar apa yang kau tuduhkan waktu siang gerimis itu.

Malam ini aku tak bisa memejamkan mata. Ada Kecamuk gundah yang harus terungkap lepas. Jika kondisi seperti ini, biasanya memang Evelah yang kuajak bicara. Ia akan mendengarkan dengan tenang. Memberikan komentar dengan konsep filosofisnya yang kadang kupikir susah diaplikasikan. Tapi aku selalu suka dan menyimak kata demi kata dari bibirnya. Apakah pertengkaran tadi siang adalah salah satu konsepnya yang memang tak bisa kuterjemahkan itu. Entahlah!

Aku telah ada dihadapan Eve. Sengaja aku datang untuk mengungkapkan apa yang kurenungkan tadi malam.

“Ya, begitulah Eve…mungkin ada yang salah dalam aku menempatkan cinta” aku menutup uraian renunganku. Persis seperti apa yang terpikir padaku malam tadi.

Eve menatapku lembut, “Apa yang kau ketahui tentang cinta?”

“Seperti yang kau lihat praktiknya selama ini pada hidupku.”

“Apa salah aku mencintaimu? Apakah cinta harus terkekang pada definisi hubungan antar lawan jenis yang selalu kita ikat dengan kata pacaran atau pernikahan?” kejarnya bertubi-tubi. Kalimat itu tajam, meski aku tahu Eve tidak lagi marah.

“Eve…! Please deh, jangan membuatku bingung.”

“Cinta adalah kata yang universal. Tidak hanya satu untuk diambil alih paksa istilahnya pada hubungan cinta Adam pada Naura, cinta Adam pada Raisya, atau cinta yang sah sekalipun, cinta suami pada isteri” ia mulai mengurai konsep. Aku mencoba menterjemahkannya dengan sederhana di benakku.

“Kalau kau menempatkan cinta selama ini dimana? Mana cinta untuk sesama yang mesti kau bagi, padaku sebagai saudara plus sahabat. Pada kepapaan yang selalu tampak di lingkungan kita. Dan satu lagi Adam! Kau percaya pada Tuhan?”

“Ya, kenapa tidak?”

“Mana cintamu pada denting transendental. Sesejatinya cinta adalah pada Tuhan yang berlapis ganda cinta horison an-nas, manusia. Maaf aku mengatakan ini, karena aku juga sedang memaknai cinta ini” ujarnya.

Oh god! Sejauh itu? Mungkin kau benar Eve, kata-katamu memang benar-benar tepat. Apakah aku memperdulikankan cinta Tuhan saat bercinta dengan pacar-pacarku? Bahkan aku telah melupakan cinta sesama saudara (seperti halnya cinta kita Eve) ketika asyik pada kekasihku. Ahh….kau benar Eve!

“Cinta kekasih…” aku menggumam datar. Eve mendengarnya.

“KE KA SIH, menurutku ungkapan itu tidak hanya bisa kita sandangkan pada manusia. Bagaimana dengan kekasih kita yang maha mengasihi? Berarti Allah adalah kekasih kita. Bagaimana ini, Adam?” Eve bingung terjebak pada logika kata-kata.

Aneh! Tiba-tiba aku ingin mengatakan, “Ya, begitulah Eve. Pada ketenangan hati kita harus mengakui, jika ia bergejolak gundah turuti saja inginnya yang jujur, aku akan coba menata cinta proporsional ini?”

Dan Eve makin bingung muara cinta yang kami perdebatkan sampai pada puncak yang terkesan hakiki.

Sedetik kemudian Eve mengangguk tulus, ramah, “Dan jangan kau katakan cintaku padamu karena aku ingin menjadi kekasihmu.” Gadis itu mengubah perspektif cintaku.

* * *

Lama aku tak mengetahui kabar berita dari Eve. Terakhir suratnya menghampiriku dua bulan yang lalu. Katanya jika kami jarang berkomunikasi bukan berarti hubungan persahabatan putus. Ia selalu mengingat dan berdo’a untukku. Saat ini ia sedang mendalami apa itu cinta yang hakiki di pesantren. Tempat yang menurut Eve tepat untuk mengupas habis cinta yang selama ini dicari.

Eve, bagaimanakah penampilanmu sekarang? Bagaimanakah pandangan-pandanganmu sekarang? Suatu saat kita akan bertemu lagi kan, Eve? Tanyaku pada diri sendiri.

Ternyata gerimis bercampur terik matahari tak hanya meninggalkan sensasi pening. Keadaan cuaca siang kala perdebatan itu terjadi. Pada gerimis satu-satu aku berterimakasih…[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s